Waktu terus bergulir dan tanpa aku sadari aku masih tetap mencintainya hingga saat ini. Aku cukup bangga dengan kemampuanku menyembunyikan perasaanku. Namun ada kegelisahan yang muncul. Apakah ia masih menyukai wanita itu? Oh, Tuhan, wanita itu adalah sahabatku. Bagaimana aku harus bereaksi mengenai keadaan ini? Aku seperti terjebak ditengah-tengah mereka. Aku dapat menyadari perubahan perilaku diantara mereka, atau mungkin ini hanya kecurigaanku saja? Tapi semua kecurigaanku terbukti benar. Mereka berdua bersatu. Seolah hatiku hancur berkeping-keping. Tiada kalimat yang bisa melukiskan perasaanku, bahkan air mata tidak cukup untuk mewakili perasaanku. Lalu bagaimana aku bisa hidup tanpamu?
Aku selalu mencoba untuk dapat menerima situasi ini, namun ini terlalu sulit. Seakan aku tidak diberi kesempatan oleh waktu untuk memperbaiki perasaanku padanya. Yang terjadi adalah aku masih memikirkannya setiap saat. Betapa aku merasa sedih dan hancur ketika melihat mereka tertawa bersama, berbicara bersama, atau melakukan segalanya bersama-sama. Yang keluar dari dalam diriku hanyalah sebuah segaris senyum kebohongan untuk menutupi luka hatiku yang sudah terlanjur dalam. Tapi waktu terus berjalan tanpa memedulikanku..
Sudah hampir sepuluh tahun, namun aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia telah menikah dengan wanitanya. Sementara aku, aku menikah dengan laki-laki yang aku sendiri tidak yakin apakah aku mencintainya. Suamiku terlalu baik untuk menjadi pasangan hidupku. Sehaarusnya ia bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dari diriku dan jauh lebih pantas untuk dijadikan istrinya. Dari awal aku bertemu dengannya, aku selalu berusaha untuk mencintai dirinya seperti aku menintai laki-laki itu. Tapi apa daya, aku tidak sanggup memberikan segenap cintaku padanya. Semua hatiku ternyata masih tertuju pada laki-laki itu dan aku menyimpan hatiku untuk laki-laki itu.
Pada suatu ketika aku mendapatkan kabar bahwa ia sedang mengalami koma di rumah sakit. Saat itu pula aku mengunjungi dirinya setelah sepuluh tahun. Aku mendapati laki-laki itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Ada banyak selang yang dipasang untuk memberinya kehidupan. Lalu aku mendekatinya dan memegang tangannya untuk yang pertama kalinya. Begitu dingin. Tanpa kusadari air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku mencintai dirimu lebih dari yang lainnya. Dengan melihatmu terbaring seperti ini sama saja kau membunuhku perlahan. Adakah cara yang bisa membangunkanmu? Jika ada, aku rela melakukannya untukmu. aku berharap ia memberikan reaksi sebagai tanda bahwa ia mendengarkanku berbicara, namun tidak ada reaksi sama sekali. Aku lalu mencium keningnya meski aku tahu ini tidak boleh aku lakukan, namun bagaimana bisa aku diam saja melihat orang yang kusayangi terbaring lemah seperti ini?
Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa ia sudah meninggal. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya? Seperti nafasmu dirampas oleh orang lain dan kau tidak dapat merebutnya kembali. Aku menangis. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena aku terlalu sedih dan terlalu mencintai dirinya. Waktu seolah terhenti dan menertawaiku. Aku telah kehilangan cinta abadiku. Aku sungguh menyesal terhadap apa yang terjadi pada diriku. Aku tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaanku padanya, dan sekarang ia telah pergi. Jika ada cara untuk mengungkapkan perasaanku padanya, aku akan lakukan itu. Dan memang ada satu cara untuk mengungkapkan perasaanku padanya..
Aku berjalan menelusuri pantai. Lalu aku melihat betapa cantiknya ketika matahari terbenam. Aku rasa aku dapat menyusulnya dan mengatakan bahwa aku mencintai dirinya. Kemudian aku berjalan untuk meraih matahari tenggelam tersebut dengan bayangan dirinya yang tak bisa hilang dari benakku. Sesampainya di sana aku hanya ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku sangat mencintai dirinya lebih dari siapapun. Dan seketika aku dapat melihat kuningnya cahaya matahari dari bawah laut dan aku merasa bahwa aku semakin mendekati dirinya. Ya, akan kupastikan kali ini untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintai dirinya lebih dari siapapun.
Epilog
Rumah kecil di sudut jalan tampak ramai dikunjungi oleh para pelayat. Diantara pelayat-pelayat tersebut terlihat laki-laki yang menangis di ujung taman sambil membaca sebuah surat.
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tapi aku akan mencoba menjelaskan semuanya padamu secara cepat. Aku tidak pernah mencintaimu. Maaf. Mungkin kata maaf tidak cukup untuk kuucapkan padamu, namun itulah kenyataannya. Aku selalu belajar untuk mencintaimu tapi ternyata aku tidak mampu. Seluruh hatiku hanya mampu kuserahkan pada dirinya.. Saat mendengar bahwa ia telah pergi, aku ingin turut pergi menyusulnya untuk mengatakan bahwa aku mencintainya. Dan saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah bersama dengan dirinya. Jangan tangisi aku. Carilah wanita yang benar-benar tulus mencintaimu. Sekali lagi maaf."
No comments:
Post a Comment